Latest Post

PESONA BUMI DIENG

Penulis       : Priatna, Atep Kurnia, Ayu Wulandari
Penerbit     : Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral
Kota Terbit: Bandung
Tahun         : 2014
Tebal Buku: 160 halaman

Sebagai Dataran Tinggi, Bumi Dieng menawarkan aneka pesona. Keragaman geologi berupa pegunungan, perbukitan, kawah dan telaga menjadi tempat terbaik untuk edukasi geologi. Demikian juga peninggalan budaya berupa kompleks percandian yang dibangun berabad-abad lampau serta mitos yang turun-temurun dari mulut ke mulut menjadi daya tarik tersendiri. Ditambah lagi kehadiran aneka warna langit dan macam-macam bentuk awan berarak, sungguh begitu semarak. Namun, ada satu hal yang tetap harus diwaspadai bahwa ancaman bahaya gas beracun masih membayangi Bumi Dieng. Setiap saat bisa saja bahaya tersebut mengancam keselamatan siapa saja yang berada di sekitarnya.

Buku ini mengajak para pembaca, menyusuri lekuk-lekuk indahnya dataran tinggi, menapaki jalan perbukitan, merasakan perubahan suhu, dan merasakan hangatnya kilau matahari. Termasuk mengenalkan aroma belerang dan memahami karakter gas agar memperkaya pengetahuan masyarakat sekitar khususnya. Sehingga timbul kesadaran masyarakat untuk mengutamakan keseimbangan hidup dengan kehendak alam.

Negeri di Atas Awan

Dieng, negeri yang keberadaannya dijaga oleh sekawanan kabut, konon kemilau keemasan matahari abadi, menemani gelombang tenang lautan awan di pelataran puncak-puncak gunung, tempat dewa-dewi bersemayam. Tak semua orang menikmati dan terbekati semua keindahan itu, bila hati tak terketuk oleh lekuk bumi, batu-batu, dan setumpuk catatan masa yang terpancar dari tatapan sepasang mata Kalamakara. Berada di antara dua kabupaten, Dieng dapat dicapai dari dua arah. Dengan jarak tempuh sekitar dua jam dari Banjarnegara dan 1 jam dari Wonosobo. Secara geografis Dieng berada pada ketinggian 2.093 m dpl, penyumbak listrik terbesar pada jaringan Jawa dan Bali. PLTP di Dieng yang sekarang dikelola PT. Geo Dipa Energi memiliki beberapa lokasi, di kecamatan Batur (Banjarnegara) dan kecamatan Kejajar (Wonosobo). Menurut Sudaryanto, kini Geo Dipa Unit Dieng memiliki 47 sumur. Dari sumur-sumur tersebut terdapat pipa-pipa penghubung untuk menyalurkan panas bumi. Sepintas melihat pipa-pipa itu merasa takut terjadi ledakan, karena tempat aliran gas bumi yang bisa jadi beracun dan meledak. Namun, adanya POS pengamatan gunung Dieng yang dijadikan sumber informasi terjadinya kebencanaan dan upaya penyelamatan masyarakat. Demikian juga keberadaan suhu yang super dingin dapat membekukan embun menjadi bun upas berdampak pada kondisi alam Dieng. Keberadaan BAGANA (Banser Siaga Bencana) sangat penting ketika tiba-tiba terjadi situasi darurat.

Selaras Bayang-Bayang Gas

Meski terkenal dengan semburan gas beracun, Dataran Tinggi Dieng tetap dikunjungi wisatawan. Setiap hari banyak yang muncak apalagi di akhir pekan, bisa mencapai ribuan pengunjung. Mereka ingin mengabadikan momen matahari terbit dari bukit Sikunir, Gardu Pandang, Gunung Prau, Gunung Bisma, Gunung Pakuwaja, atau lokasi lainnya. Saat cuaca berkabut para penduduk setempat dan pengunjung harus hati-hati bila gas keluar. Karena konsentrasi gas susah diurai dan berbahaya saat terhirup. Bila terjadi semburan gas, gunakan obor untuk mengetahui tinggi rendahnya kandungan gas. Bila tinggi maka obor akan mati, segera menghindar sambil membasahi kain atau handuk kecil untuk penutup hidung. Pendeteksian lebih lanjut dengan pemasangan alarm pendeteksi gas beracun di beberapa lokasi. Bila konsentrasi gas melampaui ambang batas alarm akan berbunyi. Teknik lainnya dengan pemasangan peralatan pengukuran gas sistem telemetri dengan memanfaatkan tenaga surya yang sudah dipasang di Kawah Timbang dan Kawah Sileri.

Aneka Hasil Pertanian

Sebagian besar masyarakat Dieng sebagai petani dengan produknya berupa kentang, carica, purwaceng, kacang babi, wortel, kobis, daun bawang, cabai, dan lain-lain. Dari sekian jenis tersebut yang menjadi primadona adalah kentang dengan berbagai varietas (kentang ireng, kentang sungur, kentang bandi/stram, kentang Arisa, Katela, Tung, Granola). Carica (pepaya gunung) menjadi trade mark bagi sesiapa yang berkunjung ke Dieng. Maka produk ini sangat laris, baik berupa manisan carica, sirup, selai. Konon bibit carica dibawa oleh Belanda dan ditanam di tempat dengan ketinggian 1.500 s/d 3.000 m dpl. Carica merupakan sumber kalsium, gula, dan vitamin (A,B,C,E) yang mempengarui produksi hormon pertumbuhan. Di samping itu, juga dapat mencegah pertumbuhan sel kanker, membantu melancarkan proses pencernaan makanan sekaligus membunuh kuman di usus. Purwaceng adalah sejenis tanaman herbal yang terbilang langka yang pertama ditemukan tumbuh di pegunungan Alpen (Swiss). Di Jawa Timur dikenal dengan nama Suripandak Abang. Khasiat purwaceng ternyata dapat meningkatkan stamina karena kandungan afrodisiak-nya yakni nutrisi pembangkit gairah seks hingga mendapat label “Viagra Van Java). Namun sebenarnya juga memiliki khasiat lain seperti melancarkan peredaran darah, menghangatkan tubuh, menghilangkan rasa sakit, juga sebagai anti bakteri dan kanker. Cabai gendol, kobis, bawang daun juga memiliki kekhasannya sendiri dengan keistimewaan masing-masing.

Pesona Lain Dieng

Selain bentangan alam, hasil bumi, keindahan matahari terbit dan udara yang sejuk, Dieng masih memiliki keindahan lain yakni pesona di langit. Bentangan awan, indahnya pelangi, juga kabut, kontras dengan sebaran kawah aktif (Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka), Telaga (Telaga Warna, Telaga Pangilon, Telaga Menjer, Telaga Merdada), dan Sumur Jalatunda. Ada juga Nagaraja: Penjaga Jalatunda tempat yang menyimpan legenda, konon naga ngejawantah menjadi dewa. Batu Ratapan Angin berupa bongkahan batu besar yang konon menyimpan kisah cinta yang berakhir tragis.

Jejak-Jejak Peradaban

Jejak Peradaban nampak pada candi-candi Dieng yang dibangun pada kisaran abad ke-9 M. Sebaran agama Hindu dipercaya hidup di Pulau Jawa sejak masa Sanjaya dan Dieng menjadi salah satu pusat pendidikan agama dan arsitektur bila dilihat dari kharakter khas candi Dieng. Walaupun pada perkembangan selanjutnya penduduk sekitar mayoritas beragama Islam, namun keberadaan candi tetap dijaga dan dirawat sebagai aset berharga. Di Kompleks Candi Arjuna terdapat candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Semar, di mana setiap candinya dijaga oleh kepala Kalamakara.
Begitulah pesona Bumi Dieng yang baru sebagian terungkap karena masih banyak sisi lain yang tidak kalah menariknya bila kita mau mensyukuri keindahan Dieng lebit detail. Seperti kepak burung, kilau embun, butiran salju yang kadang turun, aroma bau pupuk di sepanjang jalan menuju Dieng, hamparan sabana dengan bunga-bunga Daisy , halimun, juga keramahan dan senyum penduduknya yang mengembang menghangatkan tubuh. Sudah seharusnya sesiapa pun di sana menjaga keseimbangan kehidupan demi terwujudnya harmoni alam pegunungan selaksa surga di Negeri Awan.

Disampaikan oleh Ketua TBM Srikandi, Dra. Eko Hastuti, M.M. Manggisan Asri Wonosobo.

Iklan
Spenza

Twitter Terbaru

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya

Arsip

Pengunjung

free counters