Oleh : Basanda Etavita
Komunikasi menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan ini di mana pun dan kapan pun. Termasuk dalam lingkungan keluarga. Pembentukan komunikasi intensif, dinamis, dan harmonis dalam keluarga pun menjadi dambaan setiap orang. Peranan keluarga terutama orang tua, menjadi amat penting bagi pembentukan karakter seorang anak. Terlebih lagi bila anak tersebut mulai memasuki masa remaja.
Masa remaja merupakan masa transisi atau masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Menurut definisi dari WHO (World Health Organization) mengatakan bahwa remaja adalah mereka yang berusia 10-19 tahun. Masa remaja ini, diawali dengan pubertas. Pubertas adalah tahapan perkembangan manusia yang mengawali masa remaja. “ Seseorang mulai memasuki masa puber ketika berumur 9-10 tahun dan akan berakhir pada umur berkisar 15-16 tahun” (BKKBN, Modul 1 Kesehatan Reproduksi Remaja).
Pada masa remaja, seseorang akan mengalami berbagai perubahan mengenai dirinya, baik perkembangan fisik maupun psikologis. Remaja pada umumnya sangat rentan terhadap pengaruh dari lingkungannya. Karena di masa inilah remaja banyak mengalami berbagai problema mengenai jiwa psikologisnya. Yang tanpa disadari remaja tersebut akan mengalami proses pencarian identitas diri. Hal ini sering kali disebut dengan “krisis identitas diri”. Ditambah lagi dengan kuatnya arus globalisasi yang terjadi di era ini. Segala aspek kehidupan menjadi mendunia karena adanya perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat. Di samping memiliki banyak manfaat positif, namun juga berdampak negatif. Karena itulah remaja sangat memerlukan bimbingan dari orang tuanya.
Bila dalam proses pencarian identitas diri tersebut, tidak dibina dengan baik. Sangat dikhawatirkan nantinya terjadi berbagai hal yang tidak diinginkan. Karena remaja cenderung ingin mencoba-coba hal baru tanpa mengetahui akibatnya. Sebagai contoh hal negatif tersebut yakni adanya pergaulan bebas yang tidak mengindahkan norma dan hukum yang berlaku, remaja yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang (narkoba) dan lain-lainnya. Padahal pergaulan bebas dapat menularkan PMS (Penyakit Menular Seksual). Infeksi dari penyakit PMS tersebut dapat menyebabkan masalah kesehatan seumur hidup, termasuk kemandulan dan rasa sakit kronis. Lebih membahayakan lagi meningkatkan resiko penularan HIV yang menimbulkan penyakit AIDS. Di samping itu, remaja putri dapat mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, yang dapat memicu aborsi tidak aman, hingga dapat menyebabkan kematian. Atau pun juga menimbulkan pernikahan dini sebagai jalan pintas untuk menutupi aib. Padahal menikah pada usia dini di jaman modern ini, sungguh sangat disayangkan. Sebab dapat menghancurkan masa depan sang remaja.
Keluarga merupakan tempat di mana proses interaksi sosial primer berlangsung dan menjadi tempat ditanamkannya pendidikan moral dan agama. Sehingga keluarga terutama orangtua harus ikut bertanggung jawab dalam membimbing anaknya. Orangtua menjadi sumber utama informasi dan menjadi motor pengawasan dan pembinaan terhadap perkembangan para generasi muda yang nantinya akan melanjutkan cita-cita bangsa. Komunikasi efektif dapat menjadi jalan bagi orangtua untuk memantau dan membimbing anaknya. Namun terkadang, orangtua dan remaja terlalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing sehingga enggan untuk berbincang-bincang bersama. Remaja cenderung menganggap bahwa mencurahkan isi hati kepada orangtua adalah hal yang tidak begitu menyenangkan. Karena mereka mengira jika nantinya orangtua akan terlalu mengatur dirinya. Remaja juga merasa dirinya ragu-ragu dan malu untuk menceritakan isi hatinya. Demikian pula orangtua yang kadang malas untuk bercengkrama dengan anaknya. Bahkan ada anggapan jika komunikasi remaja dengan orang tua sering bermasalah. Sehingga tak heran, bila hubungan kekeluargaan menjadi kurang harmonis akibat tidak ada jalinan komunikasi yang baik. Bila begitu pengawasan dan pemantauan keluarga terhadap remaja menjadi sulit. Padahal melalui komunikasi efektif antara remaja dan keluarga terutama orangtua, dapat diketahui berbagai perkembangan dan masalah yang sedang dialami remaja, agar yang lebih dewasa dapat menuntunnya.
Sebaiknya sejak dini orangtua, keluarga, dan remaja mulai saling bekerja sama untuk mewujudkan cara efektif untuk membentuk komunikasi yang lebih menyenangkan dalam lingkungan keluarga. Menurut Prof. Dr. dr. H. Aris Sudiyanto, Sp.KJ (Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran (UNS) mengatakan bahwa peran orang tua dan guru cenderung berkembang ke arah otoriter, memvonis, mencurigai atau menghukum kesalahan remaja akibatnya akan mendapat perlawanan dari anak. Selanjutnya ia mengatakan, yang efektif dan dianjurkan bagi orangtua adalah berperan sebagai pembimbing (memberikan konsultasi), pendamping (mengikuti atau menyertai), atau sahabat (saling mencurahkan isi hati atau gagasan) remaja. Remaja pada umumnya tidak menyukai apabila dirinya terlalu dikekang dengan tanggung jawab tanpa kebebasan. Biasanya bila orangtua terlalu mengatur remaja sedemikian rupa akibatnya remaja akan merasa tertekan hingga ingin memberontak. Bila seperti itu kemungkinan besarnya adalah remaja menjadi merasa tidak nyaman berada di lingkungan keluarga. Remaja ingin dihormati segala pendapatnya, walaupun memang terkesan gegabah dan semaunya sendiri.
Keharmonisan keluarga tentu menjadi dambaan setiap remaja. Berdasarkan pengamatan terhadap bayi, apabila terjadi perdebatan dan permasalahan dalam keluarga ia merasa peka, bingung, dan menangis. Sama seperti remaja yang sangat tidak menginginkan problem dalam keluarga. Komunikasi efektif dapat terwujud bila ada rasa saling percaya, perhatian, menghargai, dan tidak egoisme antara remaja dan orangtua. Di waktu yang bijaksana, setidaknya orangtua dan remaja saling menceritakan sesuatu yang terjadi pada hari itu, dengan penuh kejujuran. Orangtua lebih bersikap seakan menjadi seorang sahabat karib dari pada menjadi pendikte. Keakraban menjadi kuncinya. Bila demikian, remaja merasa lebih leluasa dalam mengungkapkan perasaannya, tanpa harus takut orangtua akan terlalu mengaturnya. Jika remaja memiliki masalah, diharapkan orang tua memberikan dorongan, motivasi, solusi, dan dukungan.
Dorongan sebagai penyemangat remaja agar ia tidak lekas putus asa. Motivasi untuk memberikan acuan, sehingga remaja memiliki banyak nasihat sebagai arah jalan hidupnya. Solusi untuk membantu menyelesaikan masalah bagi remaja. Serta dukungan sebagai langkah untuk meningkatkan kepercayaan diri remaja dengan pilihan yang ia putuskan. Berbagai norma tetap menjadi panduan dalam mendidik remaja. Norma kesopanan mengajarkan etiket hidup, norma kesusilaan mengajarkan kepribadian diri, norma hukum melatih disiplin bertanggung jawab, dan norma agama petunjuk jalan arah hidup. Ke-empatnya selalu berkaitan.
Di awal masa remaja, sang remaja biasanya masih bingung mengenai banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Orangtua seharusnya memberikan beberapa informasi yang sudah sepantasnya remaja dapatkan. Tidak ada salahnya juga bila bumbu humor menjadi penghangat suasana diskusi. Lengkapilah perbincangan dengan penuh kasih sayang dan rasa empati sehingga remaja merasa bahagia. Selanjutnya membuat remaja senang untuk mencurahkan isi hatinya, sehingga pengawasan, pemantauan, dan pembimbingan orangtua terhadap remaja menjadi mudah.
Pemantauan meliputi seluruh aspek kehidupan remaja. Baik pemantauan pergaulan, pendidikan, psikologis jiwa, kesehatan reproduksi, maupun kondisi fisik. Komunikasi yang efektif dan menyenangkan dalam keluarga dapat menjadi jalan bagi orang tua untuk dapat membina anaknya supaya anaknya dapat tercipta sebagai remaja yang handal, tangguh, dan berkwalitas supaya tegar dalam menghadapi masa depan. Sebab remaja adalah generasi muda penerus bangsa yang harus dijaga agar tidak rusak akibat terkoyak perkembangan jaman yang selain membawa dampak positif juga negatif. Oleh sebab itulah remaja yang nantinya akan menjadi pilar penyangga masa depan bangsa harus benar-benar dijaga dan dididik dengan baik.



Diskusi
Belum ada komentar.